Pertumbuhan Ekonomi Kepri Tertinggi ke 3 di Indonesia

Batam – Sepanjang tahun 2025, perekonomian Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) mencatatkan kinerja yang menggembirakan di tengah berbagai tantangan dan dinamika global.

Pada triwulan III 2025, ekonomi Kepri mampu tumbuh tinggi sebesar 7,48 persen (yoy), di atas capaian Nasional yang sebesar 5,04 persen (yoy), serta terakselerasi dibandingkan triwulan sebelumnya.

Kepala KPw BI Kepri Rony Widijarto P menjelaskan, pertumbuhan ekonomi Kepri juga menjadi yang tertinggi se-Sumatera dan tertinggi ketiga se-Nasional.

Menurutnya, apangan usaha, perekonomian Kepri masih ditopang oleh sejumlah sektor utama, yakni industri pengolahan, pertambangan, konstruksi, serta perdagangan.

“Sementara dari sisi pengeluaran, pertumbuhan tersebut terutama didorong oleh kinerja investasi, net ekspor, serta konsumsi rumah tangga,” katanya, dalam keterangan, Selasa (30/12/25).

Selain kinerja perekonomian yang tumbuh tinggi, inflasi Kepri juga masih dapat terjaga stabil dalam rentang sasaran 2,5±1 persen. Pada November 2025, Indeks Harga Konsumen (IHK) Provinsi Kepri mengalami inflasi sebesar 0,23 persen (mtm) atau 2,31 persen (ytd).

Dengan demikian, secara tahunan Provinsi Kepri mencatatkan inflasi sebesar 3,00 persen (yoy). Terjaganya inflasi mencerminkan efektivitas implementasi Gerakan Nasional Pengendalian Inflasi Pangan (GNPIP) di Kepri yang dilaksanakan secara berkelanjutan melalui strategi 4K, meliputi Keterjangkauan Harga, Kelancaran Distribusi, Ketersediaan Pasokan, serta Komunikasi yang Efektif.

Selain itu, peran intermediasi perbankan juga terus dijalankan untuk mendukung perekonomian yang tecermin dari perkembangan kredit, aset, dan Dana Pihak Ketiga (DPK) dapat tetap tumbuh di tengah rasio Non-Performing Loan (NPL) yang rendah, sehingga stabilitas sistem keuangan di Kepri tetap terjaga.

Adapun indikator kesejahteraan masyarakat Kepri menunjukkan perbaikan, antara lain tingkat kemiskinan yang menurun dan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) yang meningkat.

“Meskipun demikian, terdapat beberapa indikator yang perlu menjadi perhatian yakni Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) dan gini rasio yang mengalami peningkatan,” ujarnya.

Sistem pembayaran dan ekosistem digitalisasi keuangan juga terus diperkuat. Untuk mendukung sistem pembayaran tunai, BI Kepri memastikan ketersediaan Uang Layak Edar (ULE) pada momen Natal dan Tahun Baru (Nataru) dengan penyelenggaraan kegiatan Semarak Rupiah di Hari Natal Penuh Damai (SERUNAI) 2025 dengan total nominal penukaran sebesar Rp2,01 Miliar.

Selain itu, Bank Indonesia terus mendorong perluasan digitalisasi sistem pembayaran salah satunya melalui penguatan akseptansi QRIS. Akselerasi digitalisasi di Kepri tercermin dari peningkatan jumlah pengguna dan merchant, serta pertumbuhan volume dan nominal transaksi QRIS, termasuk QRIS cross-border yang dapat memfasilitasi kemudahan transaksi antarnegara, khususnya dalam mendukung peningkatan aktivitas sektor pariwisata.

Pada tahun 2025, BI Kepri juga turut berkontribusi dalam pengembangan UMKM melalui 3 (tiga) pilar yakni korporatisasi, kapasitas, dan pembiayaan. Sejumlah event strategis dilakukan untuk mendukung pengembangan UMKM dan digitalisasi sistem pembayaran, antara lain Gebyar Melayu Pesisir (GMP) yang mampu menghasilkan komitmen ekspor sebesar Rp1,4 miliar dari 24 UMKM, penjualan UMKM senilai Rp12,85 miliar (meningkat dibandingkan tahun 2024 sebesar Rp12,32 miliar), serta kesepakatan pembiayaan UMKM sebesar Rp3,25 miliar yang belum terdapat pada penyelenggaraan tahun sebelumnya.

“Kegiatan Kepulauan Riau Ramadhan Fair (KURMA) juga dilaksanakan bersinergi dengan pemda serta KDEKS Kepri dan mencatatkan penjualan UMKM lebih dari Rp2,7 miliar, pembiayaan Rp2,19 miliar meningkat signifikan dibandingkan Rp1 miliar pada tahun 2024, pengumpulan wakaf digital Rp50,15 juta, serta peningkatan literasi keuangan syariah,” jelas Rony.

Melalui kegiatan Creative and Innovative Riau Island Carnival (CERNIVAL), BI berupaya mengakselerasi transaksi digital dan literasi perlindungan konsumen dan berhasil mencatatkan jumlah pengunjung lebih dari 4.700 orang, dengan total volume transaksi QRIS mencapai 140.026 transaksi serta nominal transaksi UMKM yang mencapai Rp253,6 juta selama 3 hari kegiatan, meningkat signifikan dari CERNIVAL sebelumnya tahun 2023 dengan total volume transaksi QRIS sebanyak 27.682 transaksi atau naik lebih dari 400 persen.

Adapun event Bersama Rayakan Festival Digital Kepulauan Riau (BERLAYAR) dilaksanakan di Pulau Belakang Padang, wilayah terluar yang berbatasan langsung dengan Singapura, dengan konsep festival rakyat, dan mampu mencatatkan volume QRIS mencapai 49.076 transaksi selama 2 hari pelaksanaan kegiatan.

Ke depan, prospek perekonomian Kepri masih akan dihadapkan pada sejumlah tantangan, antara lain berlanjutnya implementasi tarif resiprokal dan persaingan perdagangan internasional, maupun berlanjutnya konflik geopolitik di sejumlah wilayah dunia.

Di sisi lain, tahun mendatang juga membawa berbagai peluang, mulai dari berlanjutnya transmisi penurunan suku bunga serta kepastian regulasi dan gencarnya promosi untuk meningkatkan investasi.

Mempertimbangkan hal-hal tersebut, Bank Indonesia memproyeksikan perekonomian Kepri pada tahun 2025 dapat tumbuh pada kisaran 6,5 s.d 7,3% (yoy), dan berada pada rentang 6,4 s.d 7,2% (yoy) di tahun 2026.

Sejumlah kegiatan telah direncanakan oleh BI Kepri untuk tahun 2026, antara lain pelaksanaan event strategis tahunan seperti GMP, KURMA, CERNIVAL, elektronifikasi transaksi pemerintah daerah (ETPD), hingga penyediaan uang layak edar pada momen Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Idul Fitri maupun Nataru melalui kegiatan Semarak Rupiah Ramadhan dan Berkah Idul Fitri (SERAMBI) dan SERUNAI.

BI Kepri akan terus memberikan komitmen dan dukungan penuh terhadap pengembangan UMKM dan perluasan digitalisasi pembayaran untuk perekonomian Kepri yang tumbuh berkelanjutan dan inklusif. (Rsd)