DPR RI Kagum, Keunggulan Kampus BTP

Kunjungan Kerja Komisi VII DPR RI di BTP

Batam – Komisi VII melakukan kunjungan kerja ke Batam Tourism Polytechnic atau BTP, Kunjungan rombongan DPR RI disambut baik ketua yayasan Vitka asman abnur.

Ketua Yayasan terlihat setia menemani sambil menjelaskan fasilitas kampus BTP miliki, Ketua Komisi VII DPR RI Saleh Partaonan Daulay menilai Kampus pariwisata yang dikelola pemerintah perlu belajar dari kampus swasta, salah satunya Batam Tourism Polytechnic. Hal itu disampaikannya saat kunjungan kerja Komisi VII DPR RI ke Batam, Kepulauan Riau, Selasa (10/2/2026).

Ini bisa menjadi mitra Kementerian Pariwisata ingin melihat langsung pengelolaan politeknik pariwisata swasta sebagai perbandingan dengan kampus politeknik pariwisata pemerintahan miliki.

“Secara nggaran Kementerian Pariwisata sebesar Rp 1,4 triliun, dan Rp 600 miliar di antaranya digunakan untuk mengelola enam politeknik pariwisata yang dikelola langsung oleh pemerintah. Karena itu DPR RI Komisi VII datang ke Batam untuk melihat bagaimana politeknik pariwisata swasta ini dikelola,” kata Saleh.

Menurutnya, Batam Tourism Polytechnic menunjukkan pengelolaan kampus sangat baik, meski tidak mendapatkan pendanaan dari APBN, kampus ini mampu membiayai seluruh kegiatan akademik secara mandiri.

“Kami melihat langsung bagaimana mereka mengelola kampus, menyeleksi mahasiswa, sampai menempatkan mereka di lokasi magang, bahkan banyak yang magang ke luar negeri. Yang paling penting, hampir semua alumninya sudah bekerja dan sangat diminati,” ujarnya.

Saleh menyebut, keberhasilan tersebut tidak lepas dari fasilitas dan laboratorium praktik yang lengkap. Mulai dari laboratorium barista, housekeeping hotel, dapur, hingga pembuatan pizza dan layanan restoran.Ia menambahkan, perbedaan mencolok antara kampus swasta dan kampus pemerintah terletak pada etos kerja dan keberanian berinvestasi. Kampus swasta, kata Saleh, tidak ragu mengeluarkan biaya besar untuk pengembangan fasilitas demi menghasilkan lulusan berkualitas.

“Etos kerja di swasta ini luar biasa. Mereka serius, sungguh-sungguh, dan tidak ragu berinvestasi. Biaya yang dikeluarkan sebanding dengan hasilnya. Faktanya, tidak ada alumni yang menganggur,” jelasnya.

Ke depan, Komisi VII mendorong adanya kerja sama antara politeknik pariwisata pemerintah dan swasta, mulai dari pertukaran dosen, kurikulum, hingga program magang. Selain itu, Saleh juga berharap Batam Tourism Polytechnic mendapat perhatian lebih dari pemerintah pusat.

“Kampus ini harus makin besar ke depan. Kalau ada program atau alokasi dana, termasuk CSR perusahaan besar, ini bisa dimanfaatkan untuk pengembangan kampus seperti ini,” ujarnya.

Sementara itu, Direktur Batam Tourism Polytechnic Siska Amelia Maldin menjelaskan, keberhasilan lulusan BTP tidak lepas dari konsep pembelajaran yang lebih pada praktik, kampus ini memang dirancang untuk memenuhi kebutuhan industri pariwisata dan perhotelan.

“Hasilnya, sekitar 90 persen lulusan kami menjadi profesional di industri, dan 10 persen memilih menjadi entrepreneur, Dengan begitu, lulusan tidak hanya disiapkan sebagai praktisi, tetapi juga sebagai wirausaha, ujar Siska.